10 Ciri Anak yang Menjadi Korban Grooming yang Sering Terabaikan oleh Orang Tua

Jakarta – Fenomena grooming anak, yang merupakan manipulasi terhadap anak untuk tujuan eksploitasi seksual, kini semakin rumit seiring dengan kemajuan teknologi digital. Dr. dr. Ariani, M.Kes., Sp.A., Subsp. T.K P.S (K) dari Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa praktik ini sering kali terabaikan karena dilakukan secara halus dan bertahap, serta menyamar sebagai hubungan yang tampak “normal” atau penuh perhatian.

Berbeda dengan bentuk kekerasan fisik yang lebih mudah dikenali, grooming berlangsung secara perlahan dan terencana. Pelaku biasanya memanfaatkan kelengahan pengawasan orang tua dan ketidaktahuan anak, sehingga korban tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi.

Data dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) pada tahun 2025 menunjukkan bahwa terdapat 1.926 korban tindak pidana kekerasan seksual (TPKS) yang dilindungi, dengan sebagian besar merupakan anak-anak. Situasi ini menegaskan betapa pentingnya peran orang tua dan lingkungan sekitar dalam mengenali tanda-tanda awal terjadinya grooming pada anak.

Berikut adalah beberapa ciri yang perlu diwaspadai sebagai tanda anak yang menjadi korban grooming:

Perubahan Perilaku yang Drastis

Anak-anak yang mengalami grooming seringkali menunjukkan perubahan perilaku yang mencolok. Mereka bisa menjadi lebih tertutup, mudah cemas, atau terlihat tertekan tanpa alasan yang jelas. Anak-anak ini juga cenderung menyimpan rahasia, terutama yang berkaitan dengan aktivitas online atau penggunaan perangkat digital mereka.

Ketertarikan pada Sosok yang Lebih Tua

Salah satu ciri yang sering terlihat adalah anak sering membicarakan orang dewasa atau individu yang jauh lebih tua dari mereka. Mereka mungkin ingin menghabiskan waktu sendiri dengan orang tersebut atau bahkan terlibat dalam hubungan yang tidak sesuai dengan usia mereka.

Perilaku Seksual yang Tidak Sesuai Usia

Anak-anak dapat menunjukkan pemahaman atau perilaku seksual yang tidak wajar untuk usia mereka. Ini menjadi sinyal yang sangat penting, karena biasanya dipengaruhi oleh interaksi yang tidak sehat dengan pelaku grooming.

Ketergantungan pada Orang Tertentu

Korban grooming sering kali menunjukkan ketergantungan emosional yang kuat terhadap pelaku. Mereka merasa bahwa hanya orang tersebut yang benar-benar memahami atau peduli terhadap mereka, yang memperkuat hubungan yang tidak sehat tersebut.

Perubahan Emosional yang Signifikan

Gejala lain yang perlu diperhatikan adalah perubahan emosi yang mencolok, seperti tingkat kecemasan yang meningkat, gejala depresi, kemarahan yang mudah tersulut, serta perubahan suasana hati yang tidak stabil.

Dengan mengenali ciri-ciri ini, orang tua dan pengasuh dapat lebih waspada dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi anak-anak dari potensi risiko grooming. Membangun komunikasi yang terbuka dan penuh kepercayaan adalah kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.

➡️ Baca Juga: Latihan Pagi Tanpa Kafein untuk Meningkatkan Energi dan Kesehatan Tubuh Secara Optimal

➡️ Baca Juga: Nadiem Bicara c hingga Sikap Guru Besar Kedokteran

Exit mobile version