Bencana alam tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik yang nyata, tetapi juga menimbulkan berbagai tantangan serius bagi kesehatan masyarakat, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan gizi. Dalam fase pascabencana, sering kali terjadi keterbatasan akses pangan, perubahan pola konsumsi, dan kurangnya pengetahuan tentang gizi yang tepat. Semua faktor ini dapat meningkatkan risiko malnutrisi, terutama di kalangan kelompok yang paling rentan.
Oleh karena itu, proses pemulihan pascabencana tidak seharusnya hanya terfokus pada bantuan darurat. Penting untuk melibatkan edukasi dan penguatan kapasitas masyarakat, agar kebutuhan gizi dapat terpenuhi secara tepat dan berkelanjutan. Hal ini akan membantu memastikan bahwa masyarakat dapat memulihkan diri dengan baik.
Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), H. Budi Setiawan, S.T., menegaskan bahwa bantuan nutrisi bagi korban bencana harus disesuaikan dengan kebutuhan gizi yang spesifik. Pemberian makanan yang tidak sesuai, seperti kental manis yang diseduh, bisa berisiko memperburuk kondisi kesehatan mereka, terutama di masa yang rentan ini.
“Kelompok rentan yang setiap harinya diberikan asupan instan seperti kental manis dapat menghadapi berbagai gangguan kesehatan yang serius di masa depan,” ungkap Budi dalam kesempatan tersebut. Ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap asupan gizi yang tepat.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Dr. Tria Astika Endah Permatasari, S.K.M., M.K.M. Ia menggarisbawahi bahwa konsumsi produk yang tinggi gula secara berulang dapat merusak pola makan alami anak-anak, yang sangat penting untuk tumbuh kembang mereka.
“Kandungan gula yang mencapai 5–10 gram per 100 ml dalam sekali minum kental manis seduh sudah sangat berisiko bagi kesehatan tubuh,” jelas Tria. Ini menjadi perhatian khusus, mengingat banyaknya anak-anak yang berada dalam situasi rentan pascabencana.
Tria juga menyoroti bahwa kental manis sering kali menjadi pilihan praktis di lokasi bencana karena kemudahan akses dan penyajiannya. Namun, justru pada situasi pasca-bencana inilah, kewaspadaan terhadap nutrisi balita perlu ditingkatkan agar tidak menimbulkan masalah kesehatan baru di tempat pengungsian.
Terkait dengan masalah ini, Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah bersama sejumlah mitra telah mengambil langkah konkret untuk mendukung pemulihan gizi masyarakat di daerah yang terdampak bencana. Mereka mengadakan edukasi bagi kader dan relawan sebagai respons atas meningkatnya kerentanan gizi, terutama di kalangan ibu hamil, balita, dan lansia, yang sering kali muncul setelah bencana.
Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan kader dari berbagai daerah, seperti Aceh Tamiang di Aceh, Langkat di Sumatera Utara, dan Agam di Sumatera Barat, serta para mitra seperti Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dan Rangkul Foundation yang diprakarsai oleh Zaskia Adya Mecca. Melalui acara ini, kader dan relawan mendapatkan pengetahuan serta keterampilan praktis untuk memastikan pemenuhan gizi masyarakat tetap terjaga selama masa pemulihan.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi tantangan pemulihan gizi pascabencana. Keterlibatan berbagai pihak dalam memberikan pendidikan dan sumber daya yang tepat sangat penting untuk menanggulangi masalah gizi yang mungkin timbul akibat bencana. Ini juga menunjukkan bahwa perhatian terhadap kebutuhan nutrisi korban bencana harus menjadi prioritas agar mereka dapat kembali ke kehidupan normal dengan kondisi kesehatan yang lebih baik.
➡️ Baca Juga: Penggeledahan Kementerian PU: Dody Hanggodo Konfirmasi Penyitaan Dokumen dan PC
➡️ Baca Juga: Pegadaian Kanwil VIII Jakarta 1 Luncurkan Program Mudik Aman Berbagi Harapan 2026 untuk 500 Pemudik
