Jakarta – Rencana konser bertajuk “TILL THE WHOLE WORLD KNOWS” yang dijadwalkan pada 24 Oktober 2026 di Jakarta kini menjadi sorotan banyak pihak. Publik mulai memperhatikan setelah munculnya dugaan bahwa acara tersebut terkait dengan dukungan terhadap Israel dan gerakan Zionisme Kristen.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun menanggapi dengan meminta penyelenggara untuk memberikan penjelasan secara terbuka. Menurut MUI, informasi yang beredar perlu diverifikasi agar tidak menjadi spekulasi yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, menekankan pentingnya perhatian terhadap dugaan tersebut jika terbukti benar setelah dilakukan verifikasi.
“Jika terbukti konser ini mempromosikan atau terkait dengan agenda dukungan terhadap Israel, hal ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia,” ungkap Prof. Sudarnoto dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis oleh MUI.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki posisi politik luar negeri yang mendukung kemerdekaan Palestina serta menolak semua bentuk penjajahan. Dengan demikian, ia mendorong adanya kejelasan mengenai tujuan dan latar belakang di balik penyelenggaraan konser tersebut.
MUI juga menyoroti istilah Christian Zionism yang belakangan ini muncul dalam diskusi seputar acara tersebut. Sudarnoto mengingatkan agar isu ini tidak berkembang menjadi permasalahan yang dapat merusak hubungan antarumat beragama.
“Persoalan ini bisa menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas dan berpotensi mengganggu kerukunan antarumat beragama. Kita harus berhati-hati agar tidak ada pihak yang berupaya memecah belah agama-agama melalui isu ini,” tegasnya. MUI meminta penyelenggara untuk menjelaskan berbagai aspek terkait konser, termasuk pihak yang terlibat, tujuan acara, artis yang tampil, serta bentuk kerja sama yang ada.
“Siapa saja penyelenggaranya, pihak mana yang terlibat, apa tujuan dari kegiatan ini, siapa artis yang akan tampil, serta bagaimana bentuk kerja sama yang dijalin? Apakah ada keterkaitan dengan organisasi, jaringan, kampanye, atau agenda politik yang mendukung Israel?” tambahnya.
Prof. Sudarnoto juga mendorong kepolisian dan aparat terkait untuk melakukan pemantauan terhadap rencana kegiatan tersebut. Ia berpendapat bahwa pemantauan ini penting untuk memastikan bahwa acara publik tidak digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan propaganda politik asing atau memicu konflik sosial di masyarakat.
➡️ Baca Juga: Sinergi Danantara dan NeutraDC Bersama PLN Siapkan Ekspansi Pusat Data Hyperscale
➡️ Baca Juga: Laptop Gaming Layar 240Hz Terjangkau untuk Atlet E-Sports Profesional di Indonesia
