Penyebab Kecelakaan Virgo Transport 8 Tidak Bisa Disimpulkan Hanya dari Satu Aspek

Jakarta – Penyebab terjadinya kecelakaan pada KM Virgo Transport 8 harus dianalisis secara komprehensif dan mendalam. Berdasarkan kajian teknis, tidak dapat langsung menyimpulkan penyebab kecelakaan hanya dengan mempertimbangkan modifikasi kapal, riwayat rute pelayaran, atau kedalaman perairan.

Menurut Rakhmatika Ardianto, seorang alumnus Teknik Perkapalan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Forum Transportasi Laut MTI, penting untuk melihat kecelakaan kapal dari berbagai perspektif sebelum mencapai kesimpulan.

Rakhmatika menjelaskan bahwa modifikasi kapal mengikuti prosedur pengesahan dan pengawasan yang ketat. Ia merujuk pada Peraturan Menteri (PM) Nomor 54 Tahun 2021 yang mengatur tentang Pengesahan Gambar Rancang Bangun Kapal, serta pelaksanaan dan pengawasan dalam pembangunan dan pengerjaan kapal.

“Pemilik kapal tidak diperkenankan melakukan perubahan pada konstruksi kapal sembarangan. Harus ada gambar rancang bangun, perhitungan teknis, proses pengesahan, serta pengawasan oleh Direktorat Perkapalan dan Kepelautan Ditjen Hubla serta Biro Klasifikasi Indonesia (BKI),” ujarnya, mengacu pada keterangan yang diungkapkan pada 20 September 2026.

“Setelah proses pengerjaan selesai, dilakukan evaluasi ulang mengenai stabilitas kapal melalui uji inklinasi yang dilakukan oleh BKI,” tambahnya.

Rakhmatika menegaskan bahwa perubahan desain atau fungsi kapal adalah hal yang umum dalam industri pelayaran, asalkan perubahan tersebut mengikuti proses teknis yang tepat dan memenuhi standar keselamatan serta klasifikasi yang berlaku.

Ia mencatat beberapa kapal yang telah mengalami perubahan desain dan fungsi selama masa operasional mereka.

“Banyak kapal yang saat ini masih aktif telah mengalami modifikasi desain atau fungsi. Contohnya adalah kapal Doulos Phos, yang dibangun pada tahun 1914 di Amerika Serikat dengan nama SS Medina. Kapal ini awalnya berfungsi sebagai kapal barang, kemudian beralih menjadi kapal peziarah dan penumpang dengan nama SS Roma, sebelum beroperasi sebagai kapal pesiar MS Franca, hingga akhirnya menjadi perpustakaan terapung MV Doulos dari tahun 1977 hingga 2009, dan kini direvitalisasi sebagai Doulos Phos The Ship Hotel di Bintan sejak 2019,” jelas Rakhmatika.

Di sisi lain, Rakhmatika juga menyoroti kapal MV St. Thomas Aquinas di Filipina, yang sebelumnya merupakan kapal feri Jepang bernama Sumiyoshi. Kapal tersebut telah dikonversi menjadi kapal penumpang multi-deck dengan kapasitas ribuan orang. Hal ini menunjukkan bahwa modifikasi desain dan fungsi kapal adalah hal yang lazim dalam industri pelayaran, asalkan dilakukan melalui prosedur teknis yang benar dan memenuhi kriteria keselamatan serta klasifikasi yang ditetapkan.

➡️ Baca Juga: Cara Maksimalkan Mode Fokus di iPhone Agar Notifikasi Digital Tidak Mengganggu Aktivitas Harian Anda

➡️ Baca Juga: Dahlia Poland dan Pacar Barunya: Kisah Pertemuan di Bandung yang Menarik!

Exit mobile version