Serangan AS-Israel ke Iran: Uji Kredibilitas Dewan Perdamaian Era Trump

Ahmad Khoirul Umam, seorang pakar hubungan internasional dari Universitas Paramadina, berpendapat bahwa serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran merupakan tantangan besar bagi kredibilitas Dewan Perdamaian, atau Board of Peace (BoP).

“Serangan ini semakin memperlihatkan kontradiksi antara pernyataan tentang stabilitas dan tindakan militer yang terjadi di lapangan, sekaligus menjadi ujian bagi narasi perdamaian yang diusung oleh BoP,” ungkap Ahmad dalam keterangannya di Jakarta pada hari Minggu, 1 Maret 2026.

Eskalasi konflik ini, menurutnya, memberikan peluang bagi negara-negara Islam yang cenderung mandiri, seperti Turki dan Indonesia, untuk mengevaluasi kembali hubungan mereka dengan BoP.

Ahmad menekankan bahwa seluruh kekuatan global perlu mengambil langkah-langkah untuk meredakan ketegangan dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Ia menegaskan bahwa tindakan militer yang dilakukan oleh AS dan Israel tidak hanya bertujuan untuk mengendalikan Iran, tetapi juga bisa dipandang sebagai bagian dari upaya untuk mengubah keseimbangan kekuatan di wilayah Timur Tengah.

Lebih jauh, Ahmad memperingatkan bahwa jika dinamika konflik di kawasan ini dianggap sebagai hal yang biasa dan komunitas internasional memilih untuk tidak bertindak, maka potensi untuk meluasnya konflik ke wilayah lain menjadi sangat mungkin.

“Wilayah seperti Greenland, Kanada, serta beberapa bagian Eropa dan Amerika Latin dapat menjadi target berikutnya,” tambahnya.

Sebelumnya, Israel melakukan serangan terhadap Iran pada tanggal 28 Februari 2026. Dalam pernyataan terpisah, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa militer Amerika telah memulai operasi tempur berskala besar di Iran.

Salah satu serangan yang dilaporkan melibatkan tujuh roket yang menghantam Teheran, termasuk area yang dekat dengan kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai reaksi, Iran meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel serta sejumlah target di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.

Di tengah meningkatnya ketegangan ini, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto siap untuk berangkat ke Iran guna memfasilitasi dialog yang bertujuan untuk menciptakan kembali kondisi keamanan yang stabil di kawasan.

Inisiatif diplomasi yang dilakukan oleh Indonesia ini dianggap sebagai bagian dari komitmen untuk menjaga stabilitas dan mendorong penyelesaian damai terhadap konflik yang berpotensi meluas baik secara regional maupun global.

➡️ Baca Juga: 7 Suara Siri Baru yang Cuma Bisa Diunduh Lewat Profile Config—Gratis Hari Ini

➡️ Baca Juga: Bawaslu Gandeng Influencer untuk Edukasi Pemilu Damai

Exit mobile version