Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, mengungkapkan alasan di balik kesulitan dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatra. Ia mencatat bahwa terutama di wilayah Sumatera bagian Timur, tanah gambut yang ada di sana memiliki kelebihan, tetapi juga membawa tantangan signifikan saat terjadi kebakaran.
Tanah gambut, meskipun menguntungkan dalam beberapa aspek, ternyata memiliki dampak negatif ketika terbakar. Tito menjelaskan bahwa kebakaran yang terjadi di tanah gambut berbeda dari kebakaran di tanah mineral.
“Begitu tanah gambut terbakar, api dapat bertahan lebih lama di dalam tanah, yang membuat pemadaman menjadi lebih rumit,” ungkap Tito setelah menghadiri rapat gabungan terkait karhutla di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan di Jakarta baru-baru ini.
Ia menegaskan bahwa salah satu solusi paling efektif untuk mengatasi kebakaran ini adalah dengan memasukkan air dalam jumlah yang cukup ke dalam tanah. Ada dua metode yang diusulkan oleh Tito untuk mencapai hal ini.
Metode pertama adalah memanfaatkan hujan, baik yang terjadi secara alami maupun melalui modifikasi cuaca.
“Sebagai mantan Kapolri, saya percaya bahwa kita perlu memanfaatkan air yang datang dari udara. Untuk itu, hujan bisa dibagi menjadi dua kategori, yaitu hujan alami dan hujan buatan, seperti cloud seeding untuk modifikasi cuaca,” jelas Tito.
Metode kedua mencakup memasukkan air ke dalam tanah melalui sumber-sumber air yang ada, seperti sungai, waduk, atau danau. Namun, ia juga menekankan bahwa modifikasi cuaca akan sulit dilakukan jika tidak terdapat benih awan yang memadai.
Di sisi lain, memasukkan air secara manual ke dalam tanah dari sumber air juga memiliki tantangan tersendiri, terutama jika sumber air tersebut berada jauh atau dalam keadaan kering. Oleh karena itu, Tito menyarankan agar pemerintah dapat menggunakan rekayasa kimia atau bahan kimia sebagai alternatif untuk mengatasi kebakaran.
Tito mengungkapkan bahwa metode ini sudah diterapkan di beberapa lokasi titik api di Kalimantan dan Sumatra.
“Saya melihat di Sumatera Selatan, dengan penggunaan bahan tersebut dan jumlah air yang relatif sedikit, kita dapat mendinginkan dan meredam lahan gambut yang terbakar,” tambahnya.
Tito juga menyatakan rasa syukurnya karena upaya modifikasi cuaca di Kalimantan, khususnya di Palangka Raya, telah menunjukkan hasil yang positif. Namun, ia menegaskan kembali bahwa modifikasi cuaca tetap harus dilakukan dengan adanya benih awan yang memadai.
➡️ Baca Juga: Menilai Kualitas Manajemen Perusahaan Sebelum Membeli Saham untuk Investasi Cerdas
➡️ Baca Juga: Kunjungan Wisman yang Meningkat Dorong Ekspansi Jaringan Hotel Global di Indonesia
