Reaksi Donald Trump Terhadap Ancaman Iran dan Potensi Serangan Fatal

Pernyataan lama Donald Trump mengenai Iran kembali mencuri perhatian publik. Dalam pernyataannya, Trump mengungkapkan bahwa ia telah memberikan arahan untuk ‘menghancurkan’ Iran jika dirinya terbunuh. Ucapan tersebut kembali menjadi perbincangan hangat setelah serangan gabungan oleh AS dan Israel yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026.
Trump menegaskan bahwa akan ada konsekuensi yang sangat serius jika Iran menjadikannya target dan berhasil menghabisinya dalam serangan tersebut.
“Jika itu terjadi, mereka akan menghadapi akibat yang sangat buruk. Bukan karena saya, tetapi karena tindakan mereka. Jika mereka melakukan itu, mereka akan hancur. Selesai sudah. Saya telah meninggalkan instruksi,” ujar Trump dari Ruang Oval pada Februari 2025 saat menandatangani perintah eksekutif untuk menghidupkan kembali kebijakan tekanan maksimum terhadap Teheran, sebagaimana dilaporkan beberapa sumber berita.
Di platform media sosial X, klip video pernyataan Trump tersebut telah ditonton lebih dari 7 juta kali setelah diunggah ulang pada hari Minggu. Banyak pengguna media sosial langsung menyoroti bahwa seorang mantan presiden tidak memiliki kekuatan untuk meninggalkan instruksi militer yang tetap berlaku setelah dia meninggal.
Berbagai pakar juga menekankan bahwa keputusan seperti itu seharusnya diambil oleh penggantinya, yang secara otomatis menjadi panglima tertinggi militer.
“Seorang presiden yang sudah meninggal tidak dapat memberikan perintah,” tulis seorang pengguna media sosial.
“Instruksinya tidak memiliki arti. Respons apa pun sepenuhnya tergantung pada Vance,” komentar pengguna lain.
“Prosesnya tidak berjalan seperti itu. Setelah dia tidak lagi menjabat, akan ada pemimpin baru dengan pandangan dan kebijakan tersendiri. Mereka tidak wajib mengikuti rencana pendahulunya,” sindir pengguna lain.
Sebelumnya, Trump juga menyatakan bahwa setiap negara akan menyerukan pemusnahan total terhadap negara yang bertanggung jawab atas kematian pemimpin mereka.
“Jika terjadi pada seorang pemimpin, atau orang yang sangat dekat dengannya, terutama jika ada pihak ketiga yang terlibat, tentu saja Anda akan meminta pemusnahan total terhadap negara yang melakukan itu, termasuk Iran,” jelasnya.
Media pemerintah Iran pada Minggu dini hari mengkonfirmasi bahwa Khamenei tewas akibat serangan besar yang dilancarkan oleh Israel dan AS. Kabar ini menciptakan ketidakpastian besar bagi masa depan Republik Islam Iran dan meningkatkan risiko ketegangan di kawasan. Trump bahkan mengumumkan berita kematian itu beberapa jam sebelumnya dan menyebutnya sebagai peluang terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali kontrol atas negara mereka.
➡️ Baca Juga: Polda Gorontalo Mediasi Kasus Pengeroyokan Anggota TNI oleh Oknum Brimob
➡️ Baca Juga: UEA, Irak, Oman Protes FIFA dan AFC soal Tuan Rumah Putaran 4




