Iran Tetap Menutup Selat Hormuz, Potensi Krisis Energi Semakin Mendekat

Konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah telah memberikan dampak signifikan terhadap pasar energi dan keuangan global. Lonjakan harga gas dan minyak yang tajam terjadi, sementara bursa saham di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia mengalami penurunan yang mencolok.
Mengutip dari BBC, pada Rabu, 5 Maret 2026, harga gas di Inggris mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, dengan rekor terbaru tercatat pada hari Selasa. Di sisi lain, harga minyak mentah acuan Brent juga mengalami lonjakan, menembus angka US$85 per barel, yang setara dengan Rp1.428.000 (dengan kurs Rp16.800), mencapai titik tertinggi sejak bulan Juli 2024.
Kenaikan harga tersebut terjadi setelah serangan militer yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, yang kemudian memicu balasan dari Teheran. Sejak insiden tersebut, para pelaku pasar mulai mengevaluasi potensi dampak ekonomi dari konflik ini, terutama terkait inflasi global dan kebijakan suku bunga yang diambil oleh bank sentral.
Tekanan langsung dari situasi ini terasa di pasar saham global. Indeks FTSE 100 di London ditutup dengan penurunan sebesar 2,75 persen. Sementara itu, indeks utama di Jerman dan Prancis juga merosot, masing-masing sebesar 3,44 dan 3,46 persen. Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 mengalami penurunan signifikan di awal perdagangan, sebelum akhirnya menutup hari dengan kerugian sebesar 0,9 persen.
Di Asia, kondisi serupa juga terjadi. Indeks Nikkei di Jepang mencatat penurunan sebesar 3,3 persen. Indeks Hang Seng di Hong Kong dan Shanghai Composite di China juga mengalami melemahnya performa. Indeks Kospi di Korea Selatan bahkan mencatat penurunan lebih dari 7 persen.
Kekhawatiran pasar saat ini mengingatkan kita pada dampak invasi Rusia ke Ukraina yang terjadi empat tahun lalu, yang juga memicu lonjakan harga energi dan dampak inflasi di berbagai negara.
Kantor Tanggung Jawab Anggaran Inggris telah mengeluarkan peringatan bahwa eskalasi konflik ini dapat mengganggu proyeksi fiskal negara. Dalam dokumen terbaru yang menyajikan pandangan fiskal, mereka menyebutkan bahwa ketegangan ini berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi global.
Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang baru-baru ini melakukan pertemuan dengan Presiden AS di Gedung Putih, menyampaikan keprihatinan terkait dampak ekonomi dari konflik ini. Ia menekankan pentingnya segera mengakhiri perang tersebut, berharap situasi dapat kembali stabil secepatnya.
Harga gas acuan Inggris juga menunjukkan lonjakan yang mencolok, sempat menembus angka 165 pence per therm pada hari Selasa, sebelum akhirnya ditutup di level 138 pence per therm. Meskipun mengalami penurunan, angka tersebut masih menunjukkan kenaikan lebih dari 20 persen dibandingkan dengan harga pada hari Senin. Sejak dimulainya serangan udara akhir pekan lalu, harga gas di Inggris telah meningkat dua kali lipat.
➡️ Baca Juga: Warga Temukan Fosil Purba Saat Gali Sumur
➡️ Baca Juga: Cerita Sukses Chef Restoran Miami: Kisah Inspiratif
