Honda Mengganti Bos untuk Menyesuaikan Diri dengan Perubahan Selera Konsumen RI

Jakarta – PT Honda Prospect Motor (HPM) mulai menyadari bahwa perubahan ekspektasi konsumen Indonesia terhadap kendaraan bermotor telah berlangsung dengan signifikan. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi preferensi masyarakat, tetapi juga berdampak langsung pada kinerja penjualan mereka dalam beberapa waktu terakhir.
Presiden Direktur Honda yang baru, Masanao Kataoka, menyatakan bahwa industri otomotif saat ini mengalami perkembangan yang sangat cepat. Berbagai faktor, seperti kemajuan teknologi, elektrifikasi, dan perubahan preferensi konsumen, menuntut setiap pabrikan untuk melakukan penyesuaian yang tepat.
“Saat ini, perkembangan industri otomotif sangat pesat. Teknologi terus berkembang, elektrifikasi semakin mendominasi, dan ekspektasi dari pelanggan terus berubah,” jelasnya, menggarisbawahi komitmen Honda untuk terus tumbuh bersama konsumen di tengah dinamika tersebut.
Pernyataan tersebut memang beralasan, mengingat performa penjualan Honda telah mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir. Setelah mencatatkan penjualan ritel sebanyak 103.023 unit pada tahun 2024, angka tersebut merosot drastis menjadi 71.233 unit pada tahun 2025.
Penurunan ini menggambarkan adanya pergeseran besar dalam pasar otomotif nasional. Honda, yang sebelumnya kuat dalam segmen mobil konvensional, kini dihadapkan dengan tantangan baru akibat pergeseran tren di kalangan konsumen.
Memasuki tahun 2026, situasi tersebut belum sepenuhnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Dalam dua bulan pertama tahun ini, penjualan Honda tercatat hanya mencapai 8.921 unit, dengan masing-masing 4.233 unit pada Januari dan 4.688 unit pada Februari.
Kataoka menilai, kunci untuk mengatasi tantangan ini terletak pada pemahaman bahwa kendaraan bukan sekadar produk. Mobil memiliki peran penting dalam hidup konsumen, termasuk dalam konteks keluarga mereka.
“Saya memulai karir saya di bidang penjualan dan menyadari bahwa mobil lebih dari sekadar barang; mereka adalah bagian dari kehidupan pelanggan. Di balik setiap kendaraan, terdapat cerita yang melibatkan pelanggan dan keluarganya,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa Honda di Indonesia tidak hanya berorientasi pada penjualan. Perusahaan berkomitmen untuk membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen sepanjang siklus kepemilikan kendaraan mereka.
Menurutnya, Indonesia merupakan pasar yang unik dan dinamis jika dibandingkan dengan negara lain. Untuk memahami pasar ini, Honda harus lebih aktif dalam mendengarkan suara pelanggan serta semua pihak yang terlibat dalam ekosistem otomotif.
“Pendekatan terbaik untuk memahami pasar adalah dengan mendengarkan pelanggan, mitra dealer, rekan kerja, serta media,” tegas Kataoka. Dengan pendekatan ini, diharapkan Honda dapat lebih akurat dalam membaca arah perubahan yang terjadi di pasar.
➡️ Baca Juga: PSI Kritik Pramono-Rano karena Dianggap Belum Optimal soal Program Job Fair: Harus Jadi Evaluasi
➡️ Baca Juga: Kapten Saint Kitts dan Nevis Bersiap Hadapi Dukungan Suporter Timnas Indonesia di SUGBK 2026




