Harga Emas Dunia Turun Drastis Menjadi Rp80 Juta, Simak Penyebab Utamanya

Jakarta – Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan, mencapai titik terendah dalam hampir seminggu pada perdagangan yang berlangsung pada Senin, 13 April 2026. Penurunan ini disebabkan oleh penguatan nilai dolar AS dan lonjakan harga minyak, yang berkontribusi terhadap ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) tahun ini.
Kegagalan dalam negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran memicu sentimen negatif di pasar. Hal ini menambah kekhawatiran tentang inflasi yang bisa muncul akibat ketegangan yang berkepanjangan.
Menurut informasi terbaru dari CNBC Internasional, harga emas spot mengalami penurunan sebesar 0,6 persen, menjadi US$4.718,98 atau sekitar Rp 80,75 juta (dengan asumsi kurs Rp 17.110 per dolar AS) per ons pada pukul 02.22 GMT. Emas bahkan sempat mencapai titik terendah sejak 7 April 2026.
Sementara itu, untuk emas berjangka AS yang dijadwalkan untuk pengiriman Juni, harganya turun 1 persen, berada pada level US$4.742 atau sekitar Rp 81,14 juta per ons. Sejak terjadinya konflik AS-Israel di Iran pada 28 Februari 2026, harga emas spot telah mengalami penurunan lebih dari 11 persen.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menyatakan bahwa “optimisme terkait gencatan senjata mulai memudar setelah perundingan perdamaian yang gagal, dan dampak yang ditimbulkan terhadap dolar serta harga minyak telah menyebabkan tekanan pada harga emas.”
Selain emas, pergerakan harga logam mulia lainnya menunjukkan variasi. Harga perak spot turun 2,2 persen menjadi US$74,23 per ons, platinum melemah 0,5 persen menjadi US$2.034,95, sedangkan palladium justru mencatatkan kenaikan sebesar 1 persen menjadi US$1.535,77 per ons.
Salah satu faktor yang mendasar dalam penurunan harga emas adalah penguatan dolar AS yang mencapai sekitar 0,4 persen. Kondisi ini membuat harga emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih tinggi bagi pemegang mata uang lainnya.
Di sisi lain, harga minyak dunia juga mengalami kenaikan, melampaui level US$100 per barel, setelah pembicaraan damai antara AS dan Iran gagal dan diikuti oleh rencana blokade Selat Hormuz oleh Angkatan Laut AS. Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih meluas.
Waterer mengungkapkan bahwa “setelah harga minyak kembali menembus angka $100, perhatian pasar dengan cepat beralih kepada kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral untuk menanggulangi inflasi, dan ekspektasi suku bunga inilah yang menekan performa emas.”
Garda Revolusi Iran juga memberikan peringatan, menyatakan bahwa setiap kapal militer yang mendekati wilayah tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan menghadapi tindakan tegas.
Dengan dinamika yang terjadi di pasar saat ini, para pelaku investasi perlu memperhatikan berbagai faktor yang memengaruhi harga emas dunia. Ketegangan geopolitik, fluktuasi nilai tukar, dan pergerakan harga energi merupakan elemen-elemen kunci yang dapat memengaruhi kondisi pasar emas.
Kendati harga emas saat ini menunjukkan tren penurunan, banyak analis berpendapat bahwa potensi untuk pergerakan harga di masa depan masih terbuka lebar, tergantung pada perkembangan situasi global dan respons dari bank sentral di seluruh dunia.
Dalam konteks ini, penting bagi para investor untuk tetap waspada dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Memahami faktor-faktor yang memengaruhi harga emas dunia dapat membantu dalam merumuskan strategi yang lebih efektif untuk menghadapi ketidakpastian di pasar ini.
➡️ Baca Juga: KPK Alihkan Penahanan Yaqut Menjadi Tahanan Rumah, Ini Alasannya
➡️ Baca Juga: Retakan 80 Meter Sedalam 2 Meter di Tol Cisumdawu, Pengelola Ambil Tindakan Segera




