Persib Bandung Menang atas FC Seoul, Namun Gaya Permainan Dikenal Terlalu Pragmatis

Persib Bandung mencatatkan prestasi gemilang dengan mengalahkan FC Seoul 1-0 dalam pertandingan Grup E AFC Champions League Two (ACL Two) 2026-2027 yang berlangsung di Seoul World Cup Stadium pada Rabu, 16 September 2026. Kemenangan ini menjadi sorotan, namun tidak lepas dari kritik terkait pendekatan permainan tim.
Di balik keberhasilan tersebut, pengamat sepak bola Binder Singh mengungkapkan keprihatinannya terhadap gaya permainan Persib yang dianggap terlalu pragmatis. Meskipun meraih hasil positif, pendekatan yang diterapkan menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas permainan tim.
Persib berhasil mencetak gol cepat pada menit kelima lewat sepakan Julio Cesar. Setelah memimpin, tim asuhan Igor Tolic mengambil langkah defensif yang lebih dominan dengan tujuan mempertahankan keunggulan hingga peluit akhir berbunyi. Taktik ini bisa dimaklumi, namun menimbulkan diskusi di kalangan pengamat sepak bola.
Memasuki babak kedua, FC Seoul meningkatkan intensitas serangan mereka. Persib pun terpaksa terkurung dan bermain lebih dalam untuk menahan gempuran yang terus menerus dari lawan. Penampilan defensif ini menunjukkan bagaimana tim harus beradaptasi dengan tekanan yang diberikan oleh lawan yang lebih kuat.
Bung Binder menyoroti bahwa pendekatan pragmatis yang diambil oleh Igor Tolic tidak terlepas dari komposisi skuad Persib yang tidak utuh serta kualitas lawan yang dihadapi. Hal ini memberikan gambaran mengenai strategi yang diambil pelatih dalam situasi tertentu.
“Apa yang mendorong Igor Tolic untuk memilih gaya permainan pragmatis ini?” tanya Bung Binder dalam kanal YouTube-nya. Ini menjadi pertanyaan penting mengingat setiap pelatih harus memiliki alasan kuat di balik setiap keputusan yang diambil.
Menariknya, Binder menekankan bahwa kekalahan sebelumnya melawan Persija bukanlah alasan utama untuk mengadopsi pendekatan ini, melainkan lawan yang dihadapi kali ini adalah FC Seoul, tim yang sudah berpengalaman di kompetisi Liga Korea. Ini menunjukkan bahwa tim harus menyesuaikan strategi berdasarkan kekuatan lawan.
Ia juga mencatat bahwa absennya beberapa pemain kunci seperti Sandy Walsh, Luciano, dan Gakuto Notsuda menjadi faktor penentu dalam pemilihan skema permainan oleh Tolic. Hal ini menambah kompleksitas dalam meramu taktik yang sesuai untuk pertandingan tersebut.
“Dengan Sandy Walsh yang belum bisa bermain, Luciano yang juga absen, dan Gakuto Notsuda yang tidak dapat diturunkan, siapa lagi yang bisa diandalkan? Tentu saja, dia perlu berhati-hati dalam memilih pemain dan tidak ingin mengambil risiko yang berlebihan,” jelas Bung Binder.
Lebih lanjut, Bung Binder menekankan bahwa strategi yang diterapkan Persib lebih mengutamakan keamanan hasil ketimbang bermain terbuka melawan FC Seoul. Ini menunjukkan bahwa pendekatan defensif memang menjadi pilihan dalam situasi yang menuntut hasil.
“Jadi, Tolic benar-benar memilih formasi yang pragmatis, dengan tujuan untuk meraih setidaknya satu poin, sambil menghindari risiko yang mungkin terjadi jika bermain terlalu terbuka,” pungkasnya. Pendekatan ini memicu perdebatan di kalangan pengamat tentang efektivitas gaya permainan pragmatis dalam konteks permainan modern.
➡️ Baca Juga: Sim Keliling 29 Maret 2026: Layanan Terbatas Tanpa Dispensasi untuk Masyarakat
➡️ Baca Juga: Caleb Shomo dari Beartooth Resmi Cerai Setelah Mengungkapkan Identitas Sebagai Gay




