Rupiah Melemah ke Rp17.913 per Dolar AS, Pasar Mengantisipasi Kenaikan Bunga The Fed

Jakarta – Nilai tukar rupiah ditutup pada posisi yang lebih rendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan pada Senin, 12 Oktober 2026. Pelemahan mata uang Indonesia ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terkait potensi peningkatan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS.
Data perdagangan menunjukkan bahwa rupiah ditutup di level Rp17.913 per dolar AS. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 14 poin atau setara dengan 0,08 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang tercatat pada Rp17.899 per dolar AS.
Ibrahim Assuabi, seorang analis mata uang dan Direktur PT Traze Andalan Futures, menjelaskan bahwa pernyataan dari beberapa pejabat The Fed mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan moneter menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai rupiah saat ini.
“Pernyataan terbaru dari pejabat The Fed juga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis yang dirilis di Jakarta pada hari Senin.
Sinyal yang dikeluarkan oleh pejabat The Fed ini menarik perhatian pelaku pasar, karena arah kebijakan suku bunga di AS memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan nilai tukar dolar AS dan mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Ibrahim menambahkan bahwa Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, telah menekankan perlunya pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut guna mengendalikan inflasi yang harus kembali ke target 2 persen sesuai dengan yang ditetapkan oleh bank sentral AS.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa upaya untuk menstabilkan inflasi tetap menjadi fokus utama dalam pengambilan keputusan mengenai arah kebijakan moneter di AS.
Selain Musalem, Gubernur The Fed Christopher Waller juga menyiratkan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga tambahan. Langkah ini dipandang perlu untuk mempercepat penurunan inflasi, terutama jika data ekonomi yang ada sesuai dengan ekspektasi.
Sinyal dari kedua pejabat tersebut menjadikan prospek kebijakan suku bunga The Fed sebagai salah satu hal yang diperhatikan oleh pelaku pasar keuangan. Mereka akan mengamati perkembangan data ekonomi AS untuk menilai apakah bank sentral akan mempertahankan kebijakan yang ada atau kembali melakukan pengetatan suku bunga.
Bagi pasar valuta asing, perkembangan kebijakan moneter AS menjadi sangat penting, karena dapat memengaruhi daya tarik aset yang berbasis dolar serta pergerakan nilai tukar mata uang lainnya.
➡️ Baca Juga: Polisi Jelaskan Tantangan dalam Identifikasi Surakman ABK Kapal Jurnalis
➡️ Baca Juga: Tentukan Prioritas Strategi Bisnis untuk Meningkatkan Fokus Operasional Anda



