Kebijakan Moneter Tidak Cukup, Destry Paparkan Strategi BI untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI

Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan bahwa dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin rumit, BI tidak dapat hanya bergantung pada kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Pernyataan tersebut disampaikan Destry dalam acara Saresehan 100 Ekonom Indonesia yang berlangsung di Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Kamis, 3 September 2026.
“Ruang untuk pertumbuhan ekonomi masih ada dan cukup besar. Namun, jika kita hanya mengandalkan kebijakan moneter, hal itu jelas tidak akan efektif. Kita harus memperhatikan situasi global yang bersifat ‘higher for longer’,” ungkap Destry.
Dia menjelaskan bahwa negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat (AS) sedang menghadapi tingkat inflasi yang tinggi, sehingga peluang untuk menurunkan suku bunga semakin tidak mungkin.
Selanjutnya, imbal hasil surat utang pemerintah AS dengan tenor 10 tahun juga mengalami peningkatan, kini berada di kisaran 4,5 hingga 4,6 persen, sementara dalam kondisi normal biasanya berada di sekitar 3 persen.
Selain itu, indeks dolar AS terhadap mata uang negara maju juga menunjukkan tren peningkatan. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS mulai melambat jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.
“Melihat kondisi ini, ketika inflasi naik, AS harus mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga. Namun, keputusan tersebut tidak akan mudah, karena dapat berdampak pada tekanan ekonomi,” jelasnya.
“Artinya, tantangan yang kita hadapi saat ini semakin kompleks, mengingat tingginya keterkaitan antar isu yang ada,” lanjut Destry.
Di tengah situasi ini, Destry menekankan bahwa penggunaan instrumen suku bunga (BI Rate) saja tidak cukup untuk kebijakan domestik. Dengan adanya peningkatan suku bunga global, Indonesia perlu menarik aliran investasi agar aset dalam rupiah tetap menarik bagi investor asing.
Dia juga menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih berada di bawah potensi idealnya, sehingga masih ada peluang untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, BI tidak dapat hanya mengandalkan BI Rate dalam menghadapi kondisi global yang ‘higher for longer’.
“Lantas, apa langkah yang harus diambil? Kita akan mengombinasikan kebijakan ini dengan kebijakan lainnya, yaitu kebijakan makroprudensial,” jelas Destry.
Dia menambahkan bahwa saat ini bank sentral sedang memaksimalkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Misalnya, giro wajib minimum (GWM) dalam rupiah untuk bank umum konvensional seharusnya berada efektif di level 9 persen.
➡️ Baca Juga: Aplikasi Viral yang Memudahkan Pengguna Menjalani Aktivitas Digital dengan Lebih Terarah
➡️ Baca Juga: Mendagri Tito Dukung BSPS sebagai Program Unggulan untuk Masyarakat Kurang Mampu




