Keluarga Petani Menolak Penjualan Tanah 216 Hektare Sebesar Rp430 Miliar untuk Data Center

Sebuah keluarga petani di daerah pedesaan Kentucky, Amerika Serikat, telah mengambil keputusan tegas untuk menolak tawaran sebesar US$26,48 juta atau sekitar Rp430 miliar untuk menjual tanah mereka. Penjualan ini ditujukan untuk pembangunan pusat data yang berskala besar.
Keputusan ini menempatkan mereka dalam barisan orang-orang yang menolak ekspansi pusat data yang semakin meningkat, terutama akibat perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang sangat cepat di Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan dari The Wall Street Journal, Delsia Bare, 54 tahun, bersama ibunya, Ida Huddleston, 83 tahun, menerima tawaran senilai Rp430 miliar untuk lahan pertanian seluas lebih kurang 216 hektare yang terletak di Maysville, Kentucky. Angka ini hampir sepuluh kali lipat dari estimasi harga pasar terbuka untuk lahan tersebut.
Awalnya, Bare dan Huddleston berencana untuk menjual tanah warisan keluarga mereka. Namun, keputusan itu berubah setelah mereka mengetahui bahwa lahan tersebut akan dijadikan bagian dari proyek pusat data hyperscale yang memiliki kapasitas sekitar 2,2 gigawatt (GW).
Kapasitas listrik yang sangat besar ini mencerminkan skala dari fasilitas yang akan dibangun. Pusat data modern dengan skala hyperscale memerlukan pasokan listrik yang melimpah untuk mengoperasikan ribuan hingga ratusan ribu server, sistem pendingin, jaringan, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Perusahaan yang menginisiasi proyek ini belum diungkapkan secara resmi. Namun, melalui dokumen publik yang ditelusuri oleh The Wall Street Journal, proyek ini diduga terkait dengan Meta. Meta, di sisi lain, menyatakan bahwa belum ada keputusan akhir mengenai pembangunan di kawasan tersebut.
Tanah yang dimiliki keluarga Bare dan Huddleston telah ada selama hampir dua abad.
Bagi mereka berdua, isu ini bukan sekadar nilai jual dari tanah tersebut. Lahan yang mereka miliki telah diwariskan dalam keluarga sejak tahun 1848 dan telah digunakan untuk berbagai kegiatan pertanian, termasuk beternak sapi serta menanam tembakau dan tanaman lainnya.
Rencana pembangunan pusat data ini akan mengubah fungsi lahan pertanian yang telah ada selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kompleks industri teknologi yang sangat besar, seperti yang dilaporkan oleh Russia Today.
Kampus pusat data tidak hanya terdiri dari gedung server, tetapi juga memerlukan infrastruktur pendukung seperti gardu listrik, sistem pendingin, generator cadangan, baterai, serta jaringan distribusi listrik yang beroperasi terus-menerus.
Di sekitar lokasi, beberapa pemilik lahan justru memilih untuk menerima tawaran yang ada. Beberapa kesepakatan pembelian dari pemilik tanah di sekitar lokasi dilaporkan mencapai total sekitar US$110 juta.
➡️ Baca Juga: Beasiswa S1 Kesehatan Masyarakat 2025: Dukung Kesejahteraan
➡️ Baca Juga: Akses Transfer ke Universitas di AS dan Jalur Pendidikan College yang Perlu Diketahui




