Bahlil Tegaskan Indonesia Mampu Mengatur Harga Komoditas Sumber Daya Alam melalui Bursa Mineral

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk mengatur harga komoditas sumber daya alam (SDA) melalui keberadaan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Bahlil dalam acara The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 19 Agustus 2026.
“Dengan adanya bursa komoditas yang diinisiasi oleh Bapak Presiden, diharapkan kita dapat mengatur harga untuk seluruh komoditas sumber daya alam yang dihasilkan di negara kita sendiri,” ungkap Bahlil.
Ia menjelaskan bahwa selama ini, harga komoditas SDA Indonesia banyak dipengaruhi oleh negara lain. Contohnya, harga batu bara yang sempat merosot hingga 97,65 dolar AS per ton pada periode kedua Juli 2025.
“Setelah kita lakukan pengetatan dan menjaga keseimbangan supply and demand, harganya kini mulai menunjukkan perbaikan,” lanjutnya.
Sesuai dengan penetapan dari Kementerian ESDM, Harga Batubara Acuan (HBA) untuk periode kedua Agustus 2026 ditetapkan sebesar 124,06 dolar AS per ton, angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan harga acuan batu bara pada Juli 2025.
Dengan adanya Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memberikan Indonesia kapasitas yang lebih besar dalam mengatur harga komoditas SDA sendiri.
“Bapak Presiden Prabowo ingin agar seluruh kekayaan yang ada di negara kita sepenuhnya dikelola oleh pemerintah, dengan harga yang sesuai dengan keekonomian yang baik,” jelas Bahlil.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan agar Bursa Mineral dan Komoditas Strategis mulai beroperasi pada 1 Januari 2027.
Dalam pandangannya, pembentukan bursa ini merupakan lanjutan dari kebijakan ekspor satu pintu yang sedang diterapkan oleh pemerintah. Rencana ini juga telah dibahas bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Menurut Bahlil, Indonesia selama bertahun-tahun telah menjadi salah satu produsen terbesar di dunia untuk berbagai komoditas strategis, seperti kelapa sawit, nikel, timah, batu bara, kopi, dan karet.
Namun, ia menilai bahwa harga dari banyak komoditas Indonesia selama ini masih ditentukan oleh bursa internasional. Keadaan ini dianggap perlu diubah, agar Indonesia sebagai negara penghasil dapat memiliki peran yang lebih dominan dalam menentukan harga komoditasnya sendiri.
➡️ Baca Juga: Prabowo Menghargai Upacara Penyambutan di Blue House dan Merasa Terhormat
➡️ Baca Juga: Ulasan Singkat Power Strip Aman untuk Melindungi Perangkat Elektronik Anda




