Pemerintah Menyatakan Tidak Perluasan Lahan Persawahan di Kawasan Hutan untuk Pertanian Berkelanjutan

Jakarta – Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menegaskan bahwa pemerintah tidak melihat perlunya melakukan ekspansi lahan untuk persawahan di area hutan.
“Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertanian, telah mengumumkan bahwa tidak ada keperluan untuk membuka lahan sawah baru di kawasan hutan,” jelas Hashim dalam acara Indonesia International Sustainability Forum yang diselenggarakan di Jakarta pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Pernyataan ini didasarkan pada keberhasilan program lumbung pangan atau food estate yang telah mencapai target tanpa perlu mengalihkan fungsi 2 juta hektar lahan hutan.
Hashim menambahkan bahwa pemerintah akan fokus pada optimalisasi pemanfaatan lahan rawa yang ada di Papua dan Kalimantan.
Menurut Hashim, keberhasilan dalam program-program ini memungkinkan Indonesia untuk mencapai swasembada beras, sehingga pemerintah tidak perlu lagi melakukan perluasan lahan pertanian di dalam kawasan hutan.
“Saya ingin menekankan bahwa pemerintah tidak merasa perlu untuk memperluas lahan sawah di kawasan hutan,” tegas Hashim.
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan bahwa produksi beras untuk konsumsi masyarakat dari Januari hingga September 2026 akan mencapai 28,71 juta ton, mengalami peningkatan tipis sebesar 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BPS juga mencatat bahwa potensi produksi beras untuk periode Juli hingga September 2026 diperkirakan mencapai 9,36 juta ton, yang menunjukkan penurunan sebesar 0,88 persen dibandingkan dengan tahun lalu.
Proyeksi tersebut, namun, masih dapat berubah akibat faktor-faktor seperti kekeringan, banjir, serangan hama, dan variasi dalam waktu panen.
Sementara itu, Kementerian Pertanian dalam proyeksi neraca pangan tahun 2026 memperkirakan produksi beras nasional akan mencapai 34,77 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional diperkirakan mencapai 31,10 juta ton, yang berarti akan ada surplus sekitar 3,67 juta ton.
➡️ Baca Juga: Kemampuan Problem Solving Lebih Berharga Daripada IPK di Dunia Kerja Saat Ini
➡️ Baca Juga: Analisis Pertandingan Inline Slalom Junior Internasional: Soroti Medali dan Prestasi Atlet




