Politikus PSI Bandingkan Gibran dan Habibie Terkait Ijazah, Apa Tujuannya?

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih menjadi bahan perbincangan yang hangat di masyarakat. Pada hari Selasa (6/10), MK memutuskan untuk menolak gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) yang diajukan oleh mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana beserta sebelas pemohon lainnya.
Polemik ini juga menarik perhatian salah satu politisi dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Sigit Widodo. Dalam sebuah unggahan di akun media sosialnya pada Kamis (8/10), Sigit mengangkat perbandingan antara latar belakang pendidikan Presiden ketiga Republik Indonesia, B.J. Habibie, dengan isu pendidikan Gibran yang sedang hangat dibicarakan.
Sigit menjelaskan bahwa Habibie tidak memiliki ijazah sarjana dari perguruan tinggi di Indonesia, karena ia meninggalkan studi di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung setelah enam bulan. Selanjutnya, Habibie melanjutkan pendidikannya di Jerman.
“Presiden ketiga Indonesia, B.J. Habibie, tidak memiliki ijazah sarjana. Ia meninggalkan program Teknik Mesin di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung setelah hanya enam bulan dan kemudian pindah untuk belajar di Jerman,” tulis Sigit dalam cuitannya yang dikutip pada Minggu (11/10/2026).
Sigit melanjutkan bahwa Habibie berhasil meraih gelar Diplom-Ingenieur dari Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen di Jerman, yang ia sebut setara dengan gelar magister (S2). Habibie kemudian melanjutkan pendidikan doktoralnya di institusi yang sama.
“Di sana, Habibie memperoleh gelar Diplom-Ingenieur dari RWTH Aachen, Jerman. Gelar ini setara dengan S2. Setelah itu, ia juga mendapatkan gelar S3 Doktor-Ingenieur di kampus yang sama,” tambahnya.
Politisi PSI tersebut juga menyinggung sosok Denny Indrayana, salah satu pemohon dalam gugatan PHPU ke MK. Sigit mengingatkan bahwa jika logika yang digunakan untuk mempertanyakan ijazah Gibran diterapkan pada riwayat pendidikan B.J. Habibie, maka hal itu bisa mengarah pada kesimpulan yang keliru. Ia pun menekankan pentingnya untuk menyikapi polemik ini secara logis, tanpa terpengaruh oleh kebencian politik.
“Jika kita mengikuti logika yang dipakai oleh @dennyindrayana dan sejumlah buzzer yang berusaha mendiskreditkan Mas Gibran, maka bisa saja kita mengatakan bahwa Pak Habibie hanya lulus SMA karena tidak bisa menunjukkan ijazah S1-nya. Namun, orang yang masih memiliki akal sehat dan tidak buta oleh kebencian politik tentu tidak akan berpikir demikian,” ungkapnya.
➡️ Baca Juga: Duel Krusial Manchester City vs Arsenal dan Upaya Kebangkitan MU-Chelsea di Super Sunday Premier League
➡️ Baca Juga: Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Penutupan Bandara Soetta Diperpanjang Hingga Pukul 17.30 WIB



