Super scatter mengusung konsep grafis dinamis dengan tampilan modern

PGSoft berikan bagi-bagi bonus cosmic lightning parade dengan sensasi baru

Super scatter bagikan hadiah kemerdekaan scatter prosper adventure dengan peluang menarik

Transformasi teknologi global mahjong ways membantu memahami studi evolusi big data berbasis ai

Starlight princess menggabungkan unsur bintang dan fantasi

Starlight princess dan perjalanan popularitasnya di komunitas mbg

PGSoft berikan bagi-bagi bonus eternal lightning parade dengan sensasi baru

Ulasan slot online playtech dengan variasi pola dan server teruji

Slot online tawarkan bagi-bagi bonus zeus star adventure dengan hadiah berlimpah

Slot online tawarkan bagi-bagi bonus golden glory adventure dengan hadiah berlimpah

Super scatter hadirkan bagi-bagi kejutan lucky jewel path dengan hadiah melimpah

Super scatter mengusung tampilan cerah dengan konsep grafis yang dinamis

Starlight princess menyuguhkan pemandangan galaksi dengan gaya fantasi

Ulasan teknis mengapa game grid sangat populer

PGSoft berikan bagi-bagi bonus ruby lightning parade dengan sensasi baru

Wild Bounty hadirkan bagi-bagi kejutan lucky glory parade dengan kejutan istimewa

Slot online tawarkan bagi-bagi bonus golden star adventure dengan hadiah berlimpah

Wild Bandito dan pengalaman bermain yang dibagikan komunitas mbg

depo 10k depo 10k
berita

Keluarga Petani Menolak Penjualan Tanah 216 Hektare Sebesar Rp430 Miliar untuk Data Center

Sebuah keluarga petani di daerah pedesaan Kentucky, Amerika Serikat, telah mengambil keputusan tegas untuk menolak tawaran sebesar US$26,48 juta atau sekitar Rp430 miliar untuk menjual tanah mereka. Penjualan ini ditujukan untuk pembangunan pusat data yang berskala besar.

Keputusan ini menempatkan mereka dalam barisan orang-orang yang menolak ekspansi pusat data yang semakin meningkat, terutama akibat perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang sangat cepat di Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan dari The Wall Street Journal, Delsia Bare, 54 tahun, bersama ibunya, Ida Huddleston, 83 tahun, menerima tawaran senilai Rp430 miliar untuk lahan pertanian seluas lebih kurang 216 hektare yang terletak di Maysville, Kentucky. Angka ini hampir sepuluh kali lipat dari estimasi harga pasar terbuka untuk lahan tersebut.

Awalnya, Bare dan Huddleston berencana untuk menjual tanah warisan keluarga mereka. Namun, keputusan itu berubah setelah mereka mengetahui bahwa lahan tersebut akan dijadikan bagian dari proyek pusat data hyperscale yang memiliki kapasitas sekitar 2,2 gigawatt (GW).

Kapasitas listrik yang sangat besar ini mencerminkan skala dari fasilitas yang akan dibangun. Pusat data modern dengan skala hyperscale memerlukan pasokan listrik yang melimpah untuk mengoperasikan ribuan hingga ratusan ribu server, sistem pendingin, jaringan, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Perusahaan yang menginisiasi proyek ini belum diungkapkan secara resmi. Namun, melalui dokumen publik yang ditelusuri oleh The Wall Street Journal, proyek ini diduga terkait dengan Meta. Meta, di sisi lain, menyatakan bahwa belum ada keputusan akhir mengenai pembangunan di kawasan tersebut.

Tanah yang dimiliki keluarga Bare dan Huddleston telah ada selama hampir dua abad.

Bagi mereka berdua, isu ini bukan sekadar nilai jual dari tanah tersebut. Lahan yang mereka miliki telah diwariskan dalam keluarga sejak tahun 1848 dan telah digunakan untuk berbagai kegiatan pertanian, termasuk beternak sapi serta menanam tembakau dan tanaman lainnya.

Rencana pembangunan pusat data ini akan mengubah fungsi lahan pertanian yang telah ada selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kompleks industri teknologi yang sangat besar, seperti yang dilaporkan oleh Russia Today.

Kampus pusat data tidak hanya terdiri dari gedung server, tetapi juga memerlukan infrastruktur pendukung seperti gardu listrik, sistem pendingin, generator cadangan, baterai, serta jaringan distribusi listrik yang beroperasi terus-menerus.

Di sekitar lokasi, beberapa pemilik lahan justru memilih untuk menerima tawaran yang ada. Beberapa kesepakatan pembelian dari pemilik tanah di sekitar lokasi dilaporkan mencapai total sekitar US$110 juta.

➡️ Baca Juga: Polda Gorontalo Mediasi Kasus Pengeroyokan Anggota TNI oleh Oknum Brimob

➡️ Baca Juga: Vietnam Vs Malaysia: John Herdman Menilai The Golden Star Warriors Sebagai Tim Terbaik Piala AFF 2026

Related Articles

Back to top button