Rupiah Menguat ke Rp17.871, The Fed Berikan Dukungan Positif untuk Pasar Finansial

Jakarta – Pada awal perdagangan hari Kamis, 8 Oktober 2026, nilai tukar rupiah menunjukkan tanda-tanda penguatan yang positif. Hal ini terjadi setelah pasar menerima sejumlah informasi ekonomi dari Amerika Serikat (AS) yang dapat berpengaruh pada kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) ke depan.
Penguatan nilai rupiah ini melanjutkan tren positif yang terlihat pada hari sebelumnya. Para pelaku pasar tetap memperhatikan perkembangan terbaru dari data ekonomi AS serta kemungkinan kebijakan yang akan diambil oleh bank sentral dalam beberapa pertemuan mendatang.
Dalam transaksi Kamis pagi, rupiah menguat sebesar 16 poin atau sekitar 0,09 persen, mencapai level Rp17.871 per dolar AS. Angka ini lebih baik dibandingkan dengan penutupan perdagangan Rabu yang tercatat di Rp17.887 per dolar AS.
Pada hari Rabu, rupiah juga mengalami penguatan yang signifikan. Tepatnya pada 7 Oktober 2026, mata uang Garuda ini meningkat 33 poin atau 0,18 persen, mencapai posisi Rp17.866 per dolar AS dari penutupan hari Selasa yang berada pada Rp17.899 per dolar AS.
Pergerakan positif ini tidak lepas dari perhatian pasar terhadap kondisi ekonomi di AS. Berbagai indikator menunjukkan adanya pelemahan, terutama dalam aspek inflasi dan pasar tenaga kerja, yang dapat memengaruhi ekspektasi investor mengenai keputusan yang akan diambil oleh The Fed.
Ibrahim Assuabi, analis mata uang dan Direktur PT Traze Andalan Futures, mengungkapkan bahwa lemahnya sejumlah indikator ekonomi AS telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
“Data mengenai ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih rendah ini telah mengurangi peluang untuk adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan yang dijadwalkan pada 27-28 Oktober mendatang,” jelasnya dalam pernyataan resmi di Jakarta.
Salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index. Pada Agustus 2026, indikator ini tercatat sebesar 3,4 persen secara tahunan, yang lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan konsensus yang memprediksi angka 3,7 persen.
Tekanan juga terlihat dalam data ketenagakerjaan, di mana Nonfarm Payrolls (NFP) di AS hanya mengalami penambahan 29 ribu pekerjaan pada bulan September. Angka ini jauh di bawah ekspektasi pasar yang lebih optimis.
Tingkat pengangguran di AS pada periode yang sama mengalami kenaikan menjadi 4,2 persen, naik dari 4,1 persen di bulan Agustus. Penambahan lapangan kerja pada bulan September juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan angka realisasi bulan Agustus yang mencapai 133 ribu.
➡️ Baca Juga: Mudik dengan Mobil Chery Tanpa Khawatir: Keamanan dan Kenyamanan Terjamin
➡️ Baca Juga: Manfaat Latihan Kalistenik untuk Variasi Gerakan Efektif di Gym Anda




